SALAM BUDAYA. Saya selalu menyadari bahwa pengetahuan saya tentang budaya masih sangat terbatas. Namun saya percaya, tidak akan pernah ada angka enam tanpa keberanian memulai dari angka satu. Apa yang mungkin hari ini dilihat sebagai sebuah keberhasilan, bagi saya bukanlah kesuksesan akhir, melainkan bagian dari proses panjang pembelajaran. Sebab makna sukses itu sendiri tidak tunggal; ia memiliki versi dan ukurannya masing-masing.
Bahkan sebutan “pande” belumlah layak disematkan kepada saya. Apa yang saya lakukan sejauh ini bukanlah pertunjukan prestasi, melainkan upaya menunjukkan proses—proses belajar, mencoba, jatuh, bangkit, dan terus berjalan.
Saya berdiri dan mampu melangkah hingga titik ini bukan karena kekuatan pribadi semata, tetapi karena dukungan, doa, dan kepercayaan dari orang-orang hebat di sekitar saya: Tuma Tinangku, Motu Motu’angku, dan To Utus Utusku. Dari merekalah saya belajar arti kebersamaan dan ketulusan dalam berjuang.
Atas dasar itulah, saya ingin mengajak seluruh pemuda dan pemudi hari ini untuk bangkit. Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang disimpan dalam ingatan, tetapi jati diri yang hidup dan membentuk masa depan.
Budaya harus dijaga dengan rasa bangga, dirawat dengan kesadaran, dan dikembangkan dengan semangat zaman.
Gunakan energi muda kita. Manfaatkan teknologi sebagai sarana, bukan sebagai ancaman. Tunjukkan kepada dunia bahwa budaya Nusantara memiliki nilai yang tidak ternilai. Mulailah dari diri sendiri, ajak teman-teman di sekitar, lestarikan budaya lokal, dan jadilah pionir kebanggaan daerah kita.
Budaya adalah identitas kita. Ia bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi. Hari ini, tanggung jawab pelestarian budaya berada di bahu kita semua. Jangan sampai budaya kita punah hanya karena kita merasa bukan bagian dari tanggung jawab tersebut.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa mencintai budaya menjadi hal yang sangat penting. Pertama, budaya adalah identitas dan jati diri bangsa. Tanpanya, kita akan mudah kehilangan arah di tengah derasnya pengaruh budaya asing.
Kedua, budaya merupakan warisan luhur dari para leluhur—peninggalan yang tak ternilai, yang harus kita hormati, jaga, dan wariskan kepada generasi berikutnya.
Ketiga, budaya adalah perekat persatuan. Keberagaman suku, bahasa, dan adat, jika dicintai dan dihargai, justru memperkuat semangat kebersamaan dan keutuhan bangsa.
Sebagaimana keyakinan yang hidup di tanah kami, “Di tanah kita, adat bukan cerita, tetapi napas yang hidup.”
Umbo’ Mosa’angu. Kalu insamo kita indee lai’, kalu insamo saa’iya ipian lai’. Slogan Lipu Andio ini mengajarkan makna persatuan dan kesadaran kolektif. Jika bukan kita yang bergerak, siapa lagi. Jika bukan sekarang, kapan lagi.
Saya bangga menjadi bagian dari Lipu Andio. Kebanggaan ini bukan sekadar tentang asal-usul, tetapi tentang tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan meneruskan nilai-nilai budaya kepada generasi yang akan datang.
Budaya bukan milik masa lalu. Budaya adalah milik hari ini dan masa depan.
Tatu Andio.
Babasalan Umbo Masa’angu.
*Penulis Adalah Ketua Panitia Pagelaran Budaya Andio ke-3













Discussion about this post