TULISAN ini bermula dari obrolan santai di grup WhatsApp. Ada yang dengan penuh keyakinan menyimpulkan: bupati sekarang luar biasa hebat karena banyak jalan diperbaiki. Titik. Tidak perlu penjelasan lanjutan.
Logikanya sederhana, bahkan terlalu sederhana: aspal mulus sama dengan kepemimpinan sukses.
Padahal, kalau ukuran kehebatan pemimpin cuma soal jalan, kita ini telat berpikir sekitar dua abad. Karena jauh sebelum republik ini lahir, seorang penjajah bernama Herman Willem Daendels sudah membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan. Jalan Raya Pos. Panjang, lurus, brutal, dan—ironisnya—masih berdiri sampai hari ini. Banyak yang lebih awet daripada jalan era APBD dan tender modern.
Bupati-bupati sebelum yang sekarang juga membangun dan memperbaiki jalan. Orde Baru yang kita tahu korup, otoriter, dan anti-kritik pun rajin membangun jalan.
Bahkan rezim yang kita kutuk dalam buku sejarah tetap paham satu hal: aspal selalu laku dijual ke rakyat.
Jalan memang fotogenik. Mudah diresmikan. Tinggal gunting pita, senyum, unggah ke media sosial, selesai. Tidak perlu repot mengurus sekolah yang kualitasnya stagnan, puskesmas yang kekurangan tenaga, atau lapangan kerja yang tidak pernah tumbuh.
Kalau mau jujur, penjajah justru lebih konsisten. Jalan mereka dibangun dengan perencanaan ketat, disiplin keras, dan—maaf—korupsi yang minim.
Sementara kita, dengan jargon otonomi daerah dan anggaran besar, sering kali hanya menghasilkan jalan yang mulus sebentar lalu rusak sebelum baliho bupatinya diturunkan.
Maka pertanyaannya bukan: berapa kilometer jalan yang diperbaiki?
Tapi: setelah jalan itu ada, rakyat ke mana?
Apakah jalan itu mengantar anak petani ke sekolah yang lebih baik, atau hanya mempercepat truk-truk tambang keluar masuk?
Apakah ia membuka lapangan kerja, atau sekadar memperlancar arus proyek?
Apakah ia menurunkan kemiskinan, atau hanya menaikkan grafik kepuasan pejabat di akhir masa jabatan?
Bupati bukan kontraktor. Bupati bukan mandor proyek. Bupati adalah pengelola masa depan manusia. Ukurannya bukan sekadar beton dan aspal, tapi apakah hidup rakyat menjadi lebih bermartabat.
Kalau ukurannya cuma jalan, maka mari jujur saja: Daendels lebih hebat. Penjajah itu juara. Dan republik ini hanya sibuk meresmikan ulang logika kolonial dengan nama yang lebih halus.
Aspal boleh mulus.
Tapi kalau hidup rakyat tetap berlubang, itu bukan prestasi.
Itu hanya pengulangan sejarah—dengan baliho yang berbeda.
Luwuk 5/1/2026
*Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat













Discussion about this post