SETIAP Ramadhan, ada satu harapan yang nyaris universal: dagangan laku, takjil habis sebelum azan Magrib, dan pulang dengan senyum yang sedikit lebih lebar dari hari biasa. Sayangnya, harapan itu bisa langsung diuji ketika Pasar Ramadhan 2026 dipusatkan di Lapangan Mirqan Bukit Halimun.
Masalah utamanya sederhana tapi krusial: lokasi. Lapangan Mirqan berada cukup jauh dari pusat kediaman dan mobilitas harian warga. Ia bukan tempat orang “kebetulan lewat”, melainkan tempat yang harus direncanakan. Padahal, Pasar Ramadhan hidup dari spontanitas—orang yang tadinya hanya mau beli gorengan, lalu pulang membawa satu kantong penuh karena lapar mata dan perut bersekongkol.
Untuk mengatasi potensi sepi, disiapkanlah berbagai hiburan rakyat: lomba, pertunjukan, agenda seremonial, hingga kegiatan yang meriah di atas panggung. Secara visual, ini tentu menarik. Secara ekonomi, belum tentu. Keramaian tidak selalu identik dengan transaksi. Orang bisa datang untuk menonton, berfoto, tertawa, lalu pulang dengan dompet tetap utuh dan iman keuangan tetap terjaga.
Bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM, faktor penentu bukan seberapa megah acaranya, melainkan seberapa dekat lokasi pasar dengan kehidupan sehari-hari warga. Mereka butuh pembeli yang datang karena lapar dan kebiasaan, bukan karena undangan atau poster acara.
Padahal, Banggai—khususnya Luwuk—punya opsi yang jauh lebih masuk akal, jika jalur dua depan masjid agung atau jalan belakang masjid agung tidak boleh karena berbagai alasan maka RTH Teluk Lalong atau Lapangan Alun-Alun Karaton Luwuk bisa jadi alternatif. Dua ruang publik ini berada di jantung kota, mudah dijangkau, dan telah lama menjadi simpul interaksi sosial dan ekonomi masyarakat. Di tempat-tempat semacam ini, orang tidak perlu diajak datang. Mereka memang sudah ada di sana.
Dengan konsep kegiatan yang sama—UMKM, hiburan Ramadhan, ruang interaksi publik—namun ditempatkan di lokasi yang lebih manusiawi, Pasar Ramadhan berpotensi menjadi ruang ekonomi yang inklusif dan efektif. Bukan sekadar ramai di laporan kegiatan, tapi hidup di lapak-lapak pedagang.
Pada akhirnya, Pasar Ramadhan bukanlah panggung festival, melainkan ruang ekonomi rakyat. Jika lokasinya justru menjauh dari rakyat, maka yang paling diuji bukan kreativitas acara, melainkan kesabaran pedagang kecil. Dan Ramadhan, sejatinya, sudah cukup banyak ujiannya tanpa harus ditambah soal lokasi.
Luwuk 18/1/2026
*Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat.













Discussion about this post