DISINI ini,sama torang pe kampung ini, torang punya satu jenis politsi yang juga ada sudah jadi pejabat dan banyak mewarnai kehidupan politik kita, yaitu : pengusaha-cum-politisi bahkan ada yang sudah jadi pejabat dan sejak awal hidupnya digerakkan oleh satu energi utama, apa itu? Itu adalah PUJIAN. Bukan energi listrik. Bukan logika,bukan pula data.
Tapi Pujian. Iya PUJIAN!
Semua masalah negeri bisa gagal dikelola kalau tidak disertai pujian pada politisi cum pengusaha ini.
Masukan logis? Tidak laku.
Masukan ilmiah? Tidak enak di telinga.
Masukan dari orang miskin? Astaga, itu dianggap dosa besar.
Bagi dia dan lingkaran pemuji profesionalnya, ada satu doktrin suci yang tidak boleh dilanggar:
“Pokoknya orang kalau sudah kaya, berarti cerdas.”
Padahal torang di sini ini tau persis, kekayaan orang bisa lahir dari banyak hal.
Ada yang dari kerja keras jualan sup konro.
Ada yang dari warisan.
Ada yang dari menipu halus.
Ada yang dari merampas hak orang lain.
Ada yang dari tebang hutan sampai tinggal akarnya.
Ada yang dari fee proyek atau korupsi.
Ada yang dari hisap keringat buruh atau kuli.
Dan tentu saja—menu andalan kampung kita— adalah bisnis BBM ilegal yang pakai jeriken, kapal kecil, dan keberanian setengah nekat.
Anehnya, begitu uang sudah menumpuk, tiba-tiba semua dosa bisnis berubah jadi gelar kehormatan:
“Pengusaha sukses.”
“Tokoh pembangunan.”
“Figur inspiratif.”
“Role Model buat anak muda kere penghuni warkop”.
Padahal kalau penegak hukum itu rajin sedikit, bisa jadi gelarnya bukan “pengusaha” tapi “tersangka” apakah itu korupsi atau bisnis bahan bakar ilegal.”
Dan lucunya lagi, setelah kaya dari jalur-jalur kreatif semacam itu, mereka tiba-tiba merasa menjadi ahli kebijakan.
Jadi pejabat, padahal kompetensinya tipis macam plastik pembungkus tomat.
Dan ini yang paling keren, orang sekitarnya atau lingkarannya. Orang – orang ini hebat, sebab semua jago memuji.
Ini bukan staf: ini pasukan pemuja.
Keahlian mereka bukan bikin laporan yang dianalisis secara logis dengan standar metode ilmiah.
Bukan analisis kebijakan.
Bukan membaca data.
Keahlian mereka cuma satu: memuji yah
memuji sampai oksigen di ruangan berkurang.
Politisi yang katanya pengusaha ini bilang apa pun, mereka jawab:
“Hebat pa!”
“Visioner pa!”
“Genius pa!”
“Cerdas Ketua”
“Keren ketua”
Mau pejabat bilang matahari terbit dari Utara pun, pasti ada yang jawab:
“Betul pa! Alami sekali pa!”
Kalau ada kritik sedikit saja, langsung dianggap penghinaan.
Kalau ada logika muncul, langsung diperlakukan lebih berbahaya daripada jerigen BBM ilegal.
Dan pada titik inilah terjadi fenomena paling memprihatinkan tapi lucu: politisi cum pengusaha dan kemudian jadi
pejabat yang anti-logika itu justru merasa dirinya paling logis sedunia.
Semua kebijakannya dianggap benar, bukan karena diuji, tapi karena dipuji.
Iya di puji.
Lama-lama, dia percaya pada mitos ciptaannya sendiri:
bahwa kekayaannya adalah bukti kecerdasan,
bahwa tepuk tangan adalah tanda kebenaran,
bahwa kritik adalah serangan pribadi,
dan bahwa masyarakat itu cukup diberi foto-foto pencitraan.
Padahal di luar sana, jalan rusak tetap berlubang,
harga sembako tetap naik,
dan BBM ilegal tetap beredar macam kurir rahasia.
Sementara itu pejabatnya sibuk memilih sudut terbaik untuk difoto,
dikelilingi para pemuja yang siap memuji dari pagi sampai malam,
seolah pujian itu bisa menambal jalan,
menurunkan harga,
atau membuat kebijakan tiba-tiba jadi masuk akal.
Begitulah kampung kita ini;
di mana politisi cum pengusaha bahkan ada yang sudah jadi pejabat hidup dari sanjungan,
lingkarannya hidup dari memuji,
dan logika hidup terasing—
entah tersesat di fee proyek 15%
entah hanyut bersama jeriken-jeriken BBM tanpa izin.
Entahlah!!
Dan seperti kata Kawan muda saya Andri Badulah, “ Hidup macam apa ini?” Sambil tertawa-tawa, hahahaha!
Luwuk 6/12/2025
*Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat.













Discussion about this post