Beritabanggai.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Daerah
    • Banggai
    • Banggai Kepulauan
    • Banggai Laut
  • Berita Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Wisata
  • Video
facebook
youtube
  • Daerah
    • Banggai
    • Banggai Kepulauan
    • Banggai Laut
  • Berita Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Wisata
  • Video
No Result
View All Result
Beritabanggai.com
  • BERANDA
  • BANGGAI
  • BANGKEP
  • BALUT
  • NASIONAL
tv
Home Daerah Banggai

Proyek-Proyek Banggai yang Menyeberang Tahun: Soal Disiplin Anggaran dan Etika Kekuasaan

Oleh: Supriadi Lawani

Berita Banggai by Berita Banggai
1 Januari 2026
0
Supriadi Lawani

Supriadi Lawani

ADVERTISEMENT

 

SETIAP akhir tahun, Banggai seperti mengalami ritual yang sama: proyek dikebut, papan nama dipasang, laporan administrasi dirapikan. Sementara di lapangan, pekerjaan justru berlanjut hingga Januari, bahkan Februari. Secara kasat mata, ini terlihat sepele. Bukankah proyek hanya “sedikit terlambat”? Namun dalam tata kelola keuangan negara, keterlambatan semacam ini bukan perkara teknis belaka. Ia menyentuh inti disiplin anggaran, akuntabilitas, dan etika kekuasaan lokal.

Dalam sistem keuangan negara, tahun anggaran bersifat tertutup. Anggaran yang disahkan DPRD berlaku sejak 1 Januari hingga 31 Desember. Prinsip ini bukan formalitas administratif, melainkan fondasi pengendalian kekuasaan fiskal. Ketika proyek dikerjakan melewati tahun anggaran tanpa dasar hukum yang sah, tanpa kontrak multi years, tanpa addendum perpanjangan yang dibuat sebelum 31 Desember maka negara sesungguhnya sedang bekerja di wilayah abu-abu.

Masalahnya bukan semata proyek belum selesai, tetapi negara seolah berjalan tanpa anggaran. Pekerjaan fisik tetap berlangsung, sementara kontrak secara hukum sudah kedaluwarsa. Dalam situasi ini, pertanyaan mendasarnya sederhana namun krusial: atas dasar hukum apa pekerjaan itu dilanjutkan? Dan dari anggaran tahun mana ia akan dibayar?

Di Banggai, pola proyek menyeberang tahun ini menunjukkan gejala yang lebih struktural. Ia bukan insiden tunggal, melainkan kecenderungan berulang. Hal ini mengindikasikan perencanaan yang lemah, penjadwalan yang tidak realistis, atau lebih jauh lagi, dorongan obsesif terhadap serapan anggaran menjelang tutup tahun. Anggaran dipaksa habis, meski fisik belum siap.

Dalam praktik audit, kondisi semacam ini sering berujung temuan. Bukan hanya temuan administratif, tetapi juga potensi kerugian keuangan daerah. Pembayaran yang dilakukan seolah-olah pekerjaan selesai 31 Desember, padahal faktanya masih dikerjakan Januari, merupakan bentuk misrepresentasi administrasi. Jika disengaja, ini dapat dikualifikasikan sebagai penyalahgunaan kewenangan.

Lebih jauh, proyek yang melewati tahun juga memindahkan risiko secara tidak adil. Kontraktor bekerja tanpa kepastian hukum, pejabat pelaksana menanggung beban administratif, sementara publik kehilangan jaminan bahwa uang daerah dikelola secara tertib. Di titik ini, keterlambatan proyek berubah dari masalah teknis menjadi persoalan etika pemerintahan.

Kita sesungguhnya tidak kekurangan regulasi. Aturan tentang kontrak, tahun anggaran, dan mekanisme perpanjangan waktu sudah tersedia dengan jelas. Yang sering absen adalah kemauan untuk patuh. Ketika pelanggaran dibiarkan berulang, ia berubah menjadi kebiasaan. Dan ketika kebiasaan itu diterima sebagai “hal biasa”, maka tata kelola berubah menjadi sandiwara kolektif.

Opini publik perlu jujur mengatakan: proyek yang menyeberang tahun tanpa dasar hukum yang sah bukan sekadar terlambat, tetapi cacat tata kelola. Ia menandakan pemerintah daerah yang gagal membedakan antara kecepatan dan ketergesaan, antara efektivitas dan manipulasi administratif.

Sudah saatnya proyek-proyek di Banggai diperlakukan bukan hanya sebagai urusan fisik dan serapan anggaran, tetapi sebagai cermin kualitas pemerintahan. Disiplin anggaran bukan musuh pembangunan. Justru tanpanya, pembangunan kehilangan legitimasi.

Jika praktik ini terus dibiarkan, Banggai tidak hanya berisiko menghadapi temuan audit, tetapi juga kehilangan kepercayaan publik—sebuah kerugian yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar keterlambatan proyek.(*)

 

Luwuk 1/1/2026

*Penulis adalah petani pisang

Tags: Kualitas PemerintahanPerencanaanProyek Terlambat
ADVERTISEMENT

BERITATERKAIT

Punya Kilang Gas Namun Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banggai Hampir Terendah se Sulteng

by Berita Banggai
3 Mei 2026
0

  BERITABANGGAI.COM, LUWUK-Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banggai tahun 2026 menjadi sorotan lantaran menempati posisi ke 12 dari 13 kabupaten kota yang...

Putusan PTUN Diabaikan, Budi Desak DPRD Sulteng Bawa Kasus Kades Banggai ke DPR RI

by Berita Banggai
3 Mei 2026
0

  BERITABANGGAI.COM, LUWUK- DPRD Provinsi Sulawesi Tengah melalui Komisi I telah mengagendakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada 4 Mei 2026...

Ketimpangan dan Buruh Banggai Yang Terabaikan

by Berita Banggai
1 Mei 2026
0

  HARI  Buruh Internasional (May Day) merupakan hari monumental, bukan sekedar sesuatu yang terberi namun sebuah perjuangan panjang yang penuh...

JOB Tomori Raih 2 Penghargaan Internasional Terkait Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

by Berita Banggai
1 Mei 2026
0

  BERITABANGGAI.COM, BANGKOK - JOB Tomori kembali menorehkan prestasi di kancah International dengan meraih 2 penghargaan pada ajang The 18th...

Hadiri RDP Komisi III DPRD Banggai, JOB Tomori Sampaikan Program Pengembangan Masyarakat

by Berita Banggai
1 Mei 2026
0

  BERITABANGGAI.COM, LUWUK - JOB Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi III DPRD...

Dinkes Banggai Siapkan Puskesmas Baru untuk Layani Warga Toili

Dinkes Banggai Siapkan Puskesmas Baru untuk Layani Warga Toili

by Berita Banggai
29 April 2026
0

    BERITABANGGAI.COM, TOILI —Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai merespons harapan Bupati Banggai terkait pembentukan puskesmas di Kecamatan Toili, menyusul pemekaran...

Next Post

PT. KLS Gelar Doa Bersama Diakhir Tahun 2025

Menjaga Budaya, Menjaga Diri: Catatan dari Pagelaran Budaya Andio ke-3

Menjaga Budaya, Menjaga Diri: Catatan dari Pagelaran Budaya Andio ke-3

Discussion about this post

Punya Kilang Gas Namun Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banggai Hampir Terendah se Sulteng

by Berita Banggai
3 Mei 2026
0

Putusan PTUN Diabaikan, Budi Desak DPRD Sulteng Bawa Kasus Kades Banggai ke DPR RI

by Berita Banggai
3 Mei 2026
0

Ketimpangan dan Buruh Banggai Yang Terabaikan

by Berita Banggai
1 Mei 2026
0

JOB Tomori Raih 2 Penghargaan Internasional Terkait Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

by Berita Banggai
1 Mei 2026
0

Pos-pos Terbaru

  • Punya Kilang Gas Namun Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banggai Hampir Terendah se Sulteng
  • Putusan PTUN Diabaikan, Budi Desak DPRD Sulteng Bawa Kasus Kades Banggai ke DPR RI
  • Ketimpangan dan Buruh Banggai Yang Terabaikan
  • JOB Tomori Raih 2 Penghargaan Internasional Terkait Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
  • Hadiri RDP Komisi III DPRD Banggai, JOB Tomori Sampaikan Program Pengembangan Masyarakat
  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Media siber
  • Kebikalan Privacy
MEDIA NETWORK

© 2022 BERITABANGGAI.COM

No Result
View All Result
  • Daerah
    • Banggai
    • Banggai Kepulauan
    • Banggai Laut
  • Berita Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Kesehatan

© 2022 BERITABANGGAI.COM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In