NAMANYA Dandi Adhi Prabowo. Lahir di Luwuk, dan kini menjadi bagian dari generasi muda yang masuk dalam gelanggang politik daerah sebagai anggota DPRD Sulawesi Tengah dan saat ini dipercaya menjadi ketua komisi 3 DPRD Sulawesi Tengah. Namun, bukan semata jabatannya yang menarik untuk dicatat.
Yang ingin saya soroti adalah sosok anak muda yang memilih jalan politik di tengah kecenderungan yang sering kita lihat hari ini. Banyak anak muda masuk politik dengan menumpang nama besar keluarga, kekuasaan, atau modal ekonomi. Fenomena ini bukan rahasia.

Politik kerap menjadi ruang reproduksi privilese.
Dalam konteks itu, Dandi bagi saya menunjukkan corak yang agak berbeda.
Benar, ia berasal dari keluarga berada. Latar belakang itu tidak bisa dipungkiri.
Namun, yang membedakan adalah bagaimana ia tampak berusaha membangun dirinya tidak semata di atas warisan, melainkan melalui proses belajar.
Pendidikan di luar negeri, khususnya di Australia, menjadi salah satu modal intelektual yang penting. Tapi lebih dari itu, ada kebiasaan membaca, berdiskusi, dan bergaul dengan beragam kalangan, mulai dari kelompok intelektual, aktivis, hingga masyarakat umum.
Kemampuan berbahasa Inggris tentu menjadi nilai tambah dalam politik modern. Bahkan, kemampuannya memahami beberapa bahasa daerah di wilayah Banggai bersaudara juga menunjukkan upaya untuk dekat dengan basis sosialnya. Ini hal yang tidak banyak dimiliki politisi muda.
Di titik ini, penting juga ditegaskan bahwa politik bukan panggung gaya. Seorang politisi tidak cukup hanya tampil percaya diri, populer, atau mengandalkan nama besar keluarga.
Politik menuntut kecerdasan yang utuh, kecerdasan akademik untuk memahami persoalan secara mendalam, dan kecerdasan emosional untuk membaca realitas sosial, merasakan denyut rakyat, serta mengambil keputusan dengan bijak. Tanpa itu, politik hanya akan diisi oleh figur-figur yang tampak gemerlap di permukaan, tetapi kosong dalam substansi.
Tulisan ini mungkin akan dianggap terlalu positif. Itu wajar. Tapi yang ingin saya tekankan bukan glorifikasi, melainkan penanda bahwa masih ada kemungkinan lain dalam wajah politik anak muda, bahwa politik tidak harus diisi oleh mereka yang hanya mengandalkan nama besar, kekayaan, atau gaya.
Tetap saja, politik adalah ruang yang keras. Ujian sebenarnya bukan pada bagaimana seseorang memulai, tetapi bagaimana ia bertahan tanpa kehilangan arah.
Karena itu, catatan ini sekaligus menjadi harapan, agar kesederhanaan, semangat belajar, dan kedekatan dengan rakyat yang saat ini terlihat, tidak luntur oleh kekuasaan. Justru sebaliknya, semakin menguat.
Pada akhirnya, publik tidak butuh politisi yang sekadar muda. Publik butuh politisi yang berpihak. Semoga saja Dandi selalu dijalan itu.
Luwuk 24/4/2026
*Penulis adalah petani pisang













Discussion about this post